Mbah

KEGIATAN DINIYAH YGNI BANYUMAS

KEGIATAN DINIYAH YGNI BANYUMAS baik diniyah formal dan non formal serta pendidikan , sosial lainnya.

PENDIDIKAN DINIYAH SHIDIQIIN WARA` UNIT YGNI BANYUMAS

Pendidikan Diniyah Formal dan Diniyah Takmiliyah (diniyah Non Formal) memakai Standar Kementerian Agama dan Pengembangan sendiri yang terbukti berkualitas.

PENDIDIKAN DINIYAH PAUD FORMAL DAN NON FORMAL

PENYELENGGARAAN DINIYAH ATHFAL (FORMAL) DAN DINIYAH TAKMILIYAH I`DADIYAH (DTI/TKQ) sangat berkualitas karena lulusan kami santri bisa baca alquran dan baca latin serta berhitung (penjumlahan dan pengurangan sampai angka ratusan, MURAH DAN BERKUALITAS belum ada yang mampu menyamai.

PERJUANGAN YANG MELELAHKAN

Memperjuangkan pendidikan diniyah ini banyak sekali tantangan dan hambatan yang terbesar adalah fitnahan , cemoohan, dicurigai dari lingkungan dan keleompok tertentu karena iri, takut tersangi lembaga pendidikannya, dimusuhi secara terorganisir rapi dan terprogram.

RARAS WURI MISWANDARU, SPdI KETUA YAYASAN YGNI BANYUMAS

Sejak mendirikan YGNI Banyumas Banyak sekali yang memusuhinya karena faktor iri,/dengki takut tersaingi dll. dari orang - orang yang tidak bertanggungjawab padahal mereka mengaku bersunnah dan juga dari pemimpin keagamaan berserta anak buah.

Rabu, 25 Desember 2013

(Karya Tulis) Peran Pendidikan Irangtua Terhadap Anak


KATA PENGANTAR


Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul “Peran Orang Tua dalam Pendidikan”. 

Adapun maksud dari penyusunan karya tulis ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia SMK NEGERI 2 KARAWANG. 

Dalam menyusun karya tulis ini, penulis mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, melalui pengantar ini penulis ucapkan banyak terima kasih atas segala bantuan yang telah diberikan. Semoga semua kebaikan dibalas oleh Allah SWT dengan balasan yang berlipat ganda. 

Karena terbatasnya pengetahuan serta kemampuan yang dimiliki, penulis menyadari bahwa dalam penyusunan karya tulis ini masih jauh dari sempurna dn masih terdapat kekurangan dan kesalahan baik dalam penyusunan kata, penulisan, maupun isi serta pembahasannya. Untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan penyusunan karya tulis lain di masa yang akan datang. 

Akhir kata, penulis berharap semoga karya tulis ini bermanfaat bagi penulis khususnya, dan umumnya bagi para pembaca.


***


DAFTAR ISI 


KATA PENGANTAR………………………………………………………………… i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………...….. ii

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………. 1

A. Latar belakang masalah……………………….………………………………….... 1

B. Perumusan masalah……………………….….…………………………………….. 1

C. Tujuan penulisan ………………………………………………………………...… 2

D. Metode penulisan………………………………………………………………….. 2

E. Sistematika penulisan ………………………………………………………………. 2

BAB II KELUARGA DAN PENDIDIKAN………………………………………….. 3

A. Tinjauan umum pendidikan………………………………………………………….. 3

1. Pengertian keluarga …………………………………….…………………………… 3

2. Pengertian pendidikan. …………………………………………..…………………. 3

3. Pembentukkan keluarga……………………………………………..……………… 4

B. Peranan keluarga terhadap pendidikan anak……………………….……………..… 5

1. Fungsi keluarga…………………………………………………..……………..…. 5

2. Pentingnya keluarga dalam pendidikan anak…………………………………......…. 6

3. Peranan keluarga sebagai pendidik keluarga ………………………………...….…. 7

4. Keluarga yang harmonis mempengaruhi pendidikan anak. ……………………...….. 8

5. Kerjasama orangtua dan guru dalam mendidik anak. ……………………….….….. 9

6. Tanggung jawab orang tua dalam pendidikan…………………….……………..… 10

C. Keluarga sebagai lembaga pendidikan informal dalam sistem pendidikan …….....… 11

BAB III PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN…………….…...……… 12

A. Fungsi orang tua dalam keluarga…………………………………………………. 12

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendidikan dalam keluarga…………………… 14

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN………………………………………….. 16

A. Kesimpulan……………………………………………………………….…….. 16

B. Saran…………………………………………………………………...……….. 17


BAB I 
PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG MASALAH 

Pendidikan dalam alam demokrasi bersifat individual yang sekaligus juga bersifat sosial. Bersifat individual karena pendidikan itu memperhatikan aspek-aspek pribadi yang unik dengan segala kemungkinannya, dan bersifat sosial karena pendidikan mengaitkan pribadi dengan lingkungan masyarakat. 

Keluarga merupakan tempat pendidikan pertama yang bersifat alamiah, karena dalam lingkungan keluarga seorang anak mulai mendapatkan pendidikan untuk yang pertama kalinya. Dalam keluargalah anak dipersiapkan mengalami tingkatan-tingkatan perkembangannya untuk memasuki dunia lainnya seperti dunia orang dewasa, bahasa, adat istiadat dan kebudayaan. Disamping keluarga, masyarakatpun menjadi tempat pendidikan yang pertama yang bersifat alamiah juga. 

Keluarga merupakan pendidikan yang pertama yang menyediakan kebutuhan biologis bagi anak dan sekaligus memberikan pendidikannya, sehingga mengahsilkan pribadi-pribadi yang dapat hidup dalam masyarakat sambil menerima dan mengolah serta mewariskan kebudayaannya. 

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan anak yang belum menikah. Di dalam kehidupan masyarakat dimanapun juga keluarga merupakan unit yang mempunyai peranan yang sangat besar, dan mempunyai fungsi yang sangat penting di dalam kelangsungan hidup bermasyarakat, didalam makalah ini akan dibahas tentang keluarga sebagai lingkungan pendidikan anak
***

B. PERUMUSAN MASALAH 


Dari uraian diatas, maka dalam makalah ini akan membahas beberapa permasalah sebagai berikut, yaitu :

1. Apakah ada peranan keluarga dalam pendidikan anak

2. Bagaimanakah peranan keluarga dalam mendidik anak


C. TUJUAN PENULISAN 


Tujuan yang ingin dicapai dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
Untuk meninjau lebih mendalam pengertian keluarga dan pendidikan anak.
Untuk mengetahui pentingnya peranan keluarga dalam Pendidikan anak.
Untuk mengetahui fungsi keluarga dalam pendidikan anak.


D. METODE PENULISAN 


Metode penulisan yang dipakai dalam penulisan makalah ini dengan menggunakan study literature dari berbagai sumber yang kemudian diuraikan dan dianalisis untuk mendapatkan suatu kesimpulan. 

***


BAB II 
KELUARGA DAN PENDIDIKAN


A. TINJAUAN UMUM PENDIDIKAN 


1. PENGERTIAN KELUARGA 

Para ahli mencoba merumuskan pengertian atau definisi mengenai keluarga sebagai berikut : 
Menurut A.M.Rose (1995 : 151), keluarga yaitu “kelompok social yang terdiri atas dua orang atau lebih yang mempinyai kaitan darah perkawianan atau adopsi”.
Menurut Feances F. Merril (1995:151), Keluarga adalah kelompok sosial yang umumnya terdiri atas ayah, ibu, dan anak. Hubungan sosial diantaranya anggota keluarga relatif tetap dan didasarkan atas ikatan darah, perkawinan, atau dari adopsi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989:413) keluarga adalah ibu, bapak, seisi rumah yang menjadi tanggungan dan memiliki kekerabatan.


2. PENGERTIAN PENDIDIKAN. 


Pendidikan menurut pandangan ahli filsafat pendidikan diantaranya , adalah menurut: 
Jhon Dewey (1995:43) berpendapat pendidikan adalah proses yang tanpa akhir (education is the process without end). Dan pendidikan merupakan proses pembentukan kemampiuan dasar yang foundamental, baik menyangkut daya fikir (daya intelektual) maupun emosional (perasaan) yang diarahkan kepada tabiat manusia kepada sesamanya.
Van Cleve Morris (1995 : 43) yang berbahan cultural empiris berpendapat bahwa pendidikan adalah studi filosofi yang pada dasarnya bukan hanya alat untuk mengalihkan cara hidup secara menyeluruh kepada setiap generasi, melainkan juga agent (lembaga) yang bertugas melayani hati nurani masyarakat dalam perjuangan mencapai hari depan yang lebih baik.
Pendapat ahli filsafat Idealisme, Herman H. Horne (1995 : 43) menyatakan bahwa pendidikan adalah proses penyesuaian diri dengan sesama manusia dengan alam jagad raya.
Dr. Omar Mohamad Al-Toumy Al-Syaebani (1995:44), mengartikan pendidikan sebagai usaha mEngubah tingkah laku individual (orang perorangan) dalam kehidupan pribadinya, dalam kehidupan sosial (kemasyarakatan) dan dalam kehidupan di lingkungan alam sekitar melalui suatu proses.
Dr. Mohammad Fadhilal Djamaly (1995:44), bahwa pendidikan adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik, yang mengangkat derajat kemanusiaan sesuai dengan kemmapuan dasar manusia (fitrah) dan kemampuan ajarnya (pengaruh dari luar).
Dr. M.J. Langeveld (1995:45), berpandangan bahwa pekerjaan mendidik adalah membimbing anak didik yang belum dewasa kearah kedewasaan yang bercirikan kemandirian 

7. Pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989-204) adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses, perbuatan, cara mendidik


3. PEMBENTUKKAN KELUARGA 


Suatu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak disebut keluarga inti (nuclear familiar), ada juga suatu keluarga tidak hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak-anaknya, tetapi juga nenek, kakek, bibi, paman, keponakan, dan saudra-sudaranya. Keluarga inti yang diperluas tersebut extented family. 

Suatu keluarga yang terbentuk melalui perkawinan, anak-anak sebagai hasil perkawinan disebut keluarga prokeasi, dan setiap individu yang dilahirkan disebut orientasi. Keanggotaan individu pada mulanya dalam keluarga orientasi, karena perkawinan maka beralih kepada keluarga prokeasi.



B. PERANAN KELUARGA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK 


1. FUNGSI KELUARGA 

Suatu keluarga merupakan institusi sosial yang bersifat universal dan multi fungsional, fungsi pengawasan, sosial, keagamaan, pendidikan, pelindungan dan reaksi dilakukan oleh keluarga terhadap para anggotanya. Akibat proses industrialisasai, urbanisasi dan sekularisasi maka keluarga dalam masyarakat modern kehilangan sebagian fungsi-fungsi tersebut diatas. 

Pada kebanyakan keluarga, ibulah yang memegang fungsi yang terpenting terhadap anaknya, sejak anaknya dilahirkan, obulah yang selalu disampingnya, ibulah yang memberi makan dan minum, memelihara dan selalu bercampur gaul dengan anak-anak. Itulah sebabnya banyak anak yang lebih mencitai ibunya daripada bapaknya. 

Pendidikan seorang ibu terhadap anak merupakannya merupakan pendidikan dasar yang tidak dapat diabaikan sama sekali. Maka dari itu, seorang ibu hendaklah seorang yang bijaksana dan pandai mendidik anaknya. Sebagian orang mengatakan kaum ibu adalah pendidik bangsa sesuai dengan fungsi dan tugas ibu sebagai anggota keluarga dalam pendidikan anak-anaknya yaitu sebagai berikut: 
Sumber dan pemberi rasa kasih sayang.
Pengasuh dan pemelihara.
Tempat mencurahkan isi hati.
Pengatur kehidupan dalam rumah tangga
Pembimbing hubungan pribadi.
Pendidik dalam segi emosional. 

Disamping seorang ibu, ayahpun memegang fungsi yang penting pula. Anak memandang ayahnya sebagai orang tertinggi gensinya atuau prestisenya. Kegitan ayah terhadap peerjaannya sehari-hari sungguh besar pengaruhnya kepada anak-anaknya, apalagi bagi anak yang sudah remaja atau dewasa. 

Ditinjau dari fungsi dan tugasnya sebagai ayah dapat dikemukakan bahwa ayah dalam pendidikan anak-anaknya yang lebih dominan adalah sebagai berikut: 
Sumber kekuasaan didalam keluarga.
Penghubung intern keluarga dengan masyarakat atau dunia luar.
Pemberi perasaan aman dalam keluarga
Pelindung terhadap ancaman dari luar
Hakim atau yang mengadili jika terjadi perselisihan.
Pendidik dalam segi rasional. 

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi keluarga adalah memelihara, merawat melindungi anak-anak dalam proses sosialisasinya agar mereka mamppu mengendalikan diri dan berjiwa sosial. Hubungan antara anggota keluarga dijiwai suasana afeksi, atau kasihsayang dan rasa tanggung jawab.


2. PENTINGNYA KELUARGA DALAM PENDIDIKAN ANAK 


Diatas telah disebutkan bahwa fungsi dan tugas keluarga dalam mendidik anak-anaknya sudah sangat berat dan harus dibantu oleh sekolah, tetapi kita harus ingat bahwa tidak semua anak sedari kecil sudah menjadi tanggungan sekolah, janganlah kita salah tafsir bahwa anak-anak yang sudah diserahkan kepada sekolah sepenuhnya menjadi tanggungjawab sekolah, karena kewajiban sekolah hanya membantu keluraga dalam mendidik anak-anaknya. 

Dalam mendidik, sekolah hanyalah melanjutkan pendidikan yang telah dilakukan orangtua dirumah, berhasil atau tidaknya pendidiakan di sekolah tergantung pada pengaruh pendidikan di rumah. Karwena pendidikan keluarga adalah fundamen atas dasar dari pendidikan anak. Selanjutnya, hasil pendidikan yang diperoleh anak dalam keluarga menentukan kelanjutan pendidikan baik di sekolah maupun masyarakat. 

Demikianlah betapa pentingnya pendidikan dalam keluarga bagi perkembangan anak menjadi manusia yang berpribadi dan berguna bagi masyarakat. Pentingnya pendidikan dalam keluarga telah dinyatakan para ahli didik, diantaranya yaitu: 


3. PERANAN KELUARGA SEBAGAI PENDIDIK KELUARGA 

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan nak-anakyangbelum menikah yang sering disebut dengan keluarga batih. Disamping keluarga batih juga terdapat unit-unit pergaulan hidup lainnya misalnya keluarga luas (extented Family), komunitas (community) dan lain sebagainya. 

Didalam kehidupan masyarakat dimanapun juga, keluarga merupakan unit yang mempunyai peranan yang sangat besar, itu disebabkan karena keluarga (yakni keluarga batih), mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kehidupan mermasyarakat. 

Sebagai unit terkecil dalam masyarakat, keluarga mempunyai peranan-peranan tertentu, antara lain: 
Keluarga berperan sebagai pelindung bagi pribadi-pribadi yang menjadi anggota, dimana ketentraman dan ketertiban diperoleh dalam wadah tersebut.
Keluarga merupakan unit sosial ekonomis yang secara materil memenuhi kebutuhan-kebutuhan anggotanya.
Keluarga menumbuhkan dasar-dasar bagi kaidah-kaidah pergaulan hidup.
Keluarga merupakan wadah dimana manusia mengalami proses sosialisasi awal, yakni suatu proses dimana manusia mempelajari dan mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. 

Gambaran situasi kehidupan keluarga pada umumnya mencakup berbagai macam aspek, yang menjadi hal-hal pokok dalam kehidupan keluarga adalah pola hubungan dalam keluarga, dan faktor-faktor eksternal (faktor-faktor yang berasal dari lingkungan keluarga). 

Pola hubungan keluarga terdiri dari hubungan afeksional (emosional) dan hubungan antara subjek keluarga /anggota keluarga. Hubungan afeksional meliputi akses afeksi, afeksi yang normal, diskriminasi afeksi, afeksi yang tidak konsisten, pemindahan afeksi, kurangnya afeksi, ketidakacuhan. Hubungan antara subyek keluarga/anggota keluarga terdiri dari reseepsi/menekan, anarkhis, kebingungan dan mencari keserasian. 

Pola-pola keluarga terdiri dari besar keecilnya keluarga, organisasi keluarga, aktifitas keluarga nilai-nilai keluarga. Dan yang terakhir adalah faktor-faktor eksternal yang berasal dari luar lingkungan keluarga. Faktor-faktor ini dipengaruhi oleh kedudukan sosial, ekonomi, tetangga, kesehatan mental, sosial dan fisik. Hal-hal pokok yang menjadi bagian dari kehidupan keluarga yang disebutkan diatas akan menghasilkan pola pendidikan keluarga tertentu. Situasi-siatusi tersebut untuk dipisahkan satu sama lain, sehingga sulit untuk menentukan mana yang lebih dominan. 

Keluarga mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan kepribadian anak yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya perkembangan kepribadian anak yang berlangsung secara berkenjutan, ikatan emosional orangtua dan anak yang begitu kuat, dan interaksi orangtua dan anak yang berlangsung secara tepat. 


4. KELUARGA YANG HARMONIS MEMPENGARUHI PENDIDIKAN ANAK. 

Keluarga yang kurang harmonis dapat menyebabkan anak tidak dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya, karena ini disebabkan oleh kurangnya perhatian dari orang tua, karena kesibukan orang tua, pertengkaran orang tua dihadapan anaknya sehingga keinginan anak untuk mengembangkan bakatnya akan terhambat yang secara otomatis perkembangan anak juga terhambat. Karena lingkungan yang baik dan afektif akan berpengaruh positif terhadap pribadi anak. Maka perkembangan anak baik jika lingkungan juga baik. 

Dalam hubungan antara anggota keluarga kurang ada keharmonisan, karena setiap hari selalu ada cekcok yang dikarenakan faktor terlalu banyak anggota keluarga yang menjadikan kurangnya kasihsayang timbal balik antara keluarga itu sendiri. 


5. KERJASAMA ORANGTUA DAN GURU DALAM MENDIDIK ANAK. 

Di rumah orang tua merupakan pendidik pertama dan utama sementara di sekolah guru merupakan pendidik utama. Secara naluriah, orangtua menjadi pendidik bagi anak-anaknya dan peletak dasar-dasar bagi perkembangan selanjutnya, sedangkan guru menjadi pendidik di sekolah karena penugasan secara formal. Namun demikian baik orangtua maupun guru berada dalam suatu bidang singgung yaitu pendidik anak. Salah satu masalah pendidikan yang sering timbul adalah masalah kegiatan belajar anak baik di sekolah maupun di rumah. Disinilah sangat diperlukan kerjasama dan adanya keterkaitan antara orang tua dan guru. Oleh karena itu sudahlah pasti orang tua adalah Guru di rumah dan Guru adalah orang tua sekolah. 

Orang tua dan guru berada pada tempat yang sama anatara pendidikan di sekolah dan pendidikan di rumah, keduanya memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama yaitu mendidik anak. Perbedaannya terletak pada sifat dan fungsinya. Orang tua berperan sebagai pendidik merupakan konsekwensunya, logis dari statusnya sebagai orang tua yang diwujudkan melalui pernikahan, secara naluriah orang tua akan dan harus mendidik anaknya. Guru menjadi pendidik timbul sebagai konsekwensinya formal dan profesional. Ketika seseorang memutuskan menjadi guru maka otomatis ia harus berperilaku mendidik. 

Sebagai kerjasama yang baik antara orang tua dan guru adalah orang tua memahami aspek apa saja yang diperlkan untuk mendukung pendidikan di sekolah, dan guru memperhatikan aspek perilku anak di rumah. 

Untuk mewujudkan hal-hal tersebut maka maka komunikasi antara orang tua dan guru perlu diwujudkan dengan sebaik-baiknya. Adapun beberapa cara yang dapat ditempuh antara lain: 
Kunjungan orang tua ke sekolah
kunjungan guru ke rumah
Rapat orang tua
Catatan kepribadian anak, dan sebagainya. 


6. TANGGUNG JAWAB ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN 

Ditinjau dari segi hukum perkawinan, bahwa anak yang dilahirkan dalam keluarga adalah milik kedua orang tua, karena pergaulan rumah tangga yang mereka bina dan tegakkan. Secara hukum telah disyahkan melalui ijab qobul yang disaksikan oleh majelis perkawinan yang sengaja dilakukan, maka anak mereka adalah tanggung jawab mereka. 

Sebenarnya hakikat perkawinan itu dilihat dari segi kependidikan adalah suami memikul rasa tanggung jawab bersama, sebelum keduanya melakukan pernikahan. Tanggung jawab atas anak berada pada kedua orang tua, yang mana dalam hukum islam telah disebutka bahwa tanggung jawab orang tua adalah semenjak anak masih didalam kandungan sampai mengawinkannya. Bila sudah dikawinkan maka otomatis secara hukum ia sudah dewasa dan semua tanggung jawab berpindah kepundaknya. 

Bila kita telaah secara mendalam memang logis jika tanggung jawab pendidikan terletak ditangan orang tua, karena anak adalah darah dagingnya, kecuali keterbatasan orang tua, maka tanggung jawab pendidikan dapat dilimpahkan kepada orang lain atau lembaga pendidikan yang telah diberikan kewenagan untuk mendidik yaitu sekolah. 

Tanggung jawab yang perlu dibina dan sadari oleh orang tua terhadap anak antara lain: 
Memelihara dan membesarkannya, melindungi dan menjamin kesehatannya baik secara jasmani dan rohani.
Mendidiknya dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi kehidupannya setelah dewasa maupun mandiri dan membenatu orang lain, dan membahagiakan dunia akhirat sebagai tujuan akhir hidup muslim. 


C. KELUARGA SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN INFORMAL DALAM SISTEM PENDIDIKAN 

Keluarga sebagai lembaga, yaitu unuit terkecil dalam masyarakat yang terbentuk atas dasar suka rela dan rasa cinta yang asasi antara dua subyek manusia (suami dan istri). Berdasarkan asas cinta dan kasih sayang inilah maka lembaga pendidikan yang disebut dengan keluarga ini terbentuk. Oleh Ki Hajar Dewantara dikatakan supaya orang tua (sebagai pendidik ) mengabdi kepada anaknya. 

Motivasi mengabdi pada keluarga semata-mata demi cinta kasih yang kodrati. Didalam suasana cinta dan kemesraan proses belajar berlangsung dengan baik selama anak itu menjadi tanggungan keluarga.


BAB III 
PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN


A. FUNGSI ORANG TUA DALAM KELUARGA 

1. Orang Tua Sebagai Pendidik Dalam Keluarga 

Dalam pendidikan guru merupakan elemen terpenting. Ia merupakan ujung tombak, bahkan proses belajar mengajar sangat dipengaruhi bagaiman siswa memandang guru. Dirumah orang tua berperan sebagai guru. Layaknya guru di sekolah, maka orang tua paling tidak berupaya bersikap seperti guru. 

Disamping itu simpati yang tepat seorang guru kepada siswanya membantu perkembangan prestasi akademik mereka secara signifikan. Guru juda perlu membangun citra yang positif tentang dirinya jika ingin siswanya memberi respon dan bisa diajak kerjasama dalam proses pembelajaran. Lebih jauh, rasa hormat dan kasih sayang ditunjukkan oleh seorang guru merupakan syarat utama kesuksesan siswa. 

Secara khusus orang tua yang berperan sebagai guru harus melakukan hal-hal sebagai berikut: 
Sesering mungkin memanfaatkan pertanyaan dengan memperhatikan kemampuan anak. Pertanyaan itu tidak hanya terfokus pada pelajaran di sekolah akan tetapi terhadap masalah-masalah lain yang berkaitan dengan kehidupan masa depannya.
Menjaga agar makan pendidikan di rumah tetap terjaga. Untuk melakukan sesuatu maka orang harus selalu memberikan pengarahan kepada anaknya untuk selalu berorientasi kepada pendidikan atau belajar. 

2. Orang Tua sebagai Penentu kwbijakan masa depan anak 

Orang tua sangat berperan dalam mengarahkan anak untuk memilih dan menjalankan kehidupan masa depan anak. Dengan adanya orang tua dan pendidikan, manusia akan menjadi pandai dan pada akhirnya mampu menerjemahkan niali-nilai yang terkandung dalam ajaran agama. 

Sebagai penentu kebijakan masa depan anak, seharusnya orang tua memahami bahwa pembinaan kepribadian anak dalam menuju arah masa depan tidak hanya dilakukan setelah anak lahir, melainkan semenjak didalam kandungan. Oleh karena tiu kita dibimbing oleh agama, dimana ketahanan mental dan moral cukup kuat untuk menempuh dan menentang segala pengaruh negatif, dari manapun datangnya maka perlu sekali unsur-unsur agama itu terjalin dalam kepribadian anak yang masih dalam kandungan, melalui sikap yang baik yang dijadikan sebagai praktek kehidupan kedua orang tua anak. 

Untuk memperoleh mental yang baik dan sehat bagi anak sebagai penetu masa depannya, hendaknya sejak dari kandungan telah dihindarkan dari pengaruh negatif yang datangnya dari orang tua sendiri, seperti: 
Menjauhkan diri dari hal-hal yang dianggap kurang baik atau dilarang oleh agama Islam, mencaci maki, dan bergunjing.
Tekun melakukan sholat, rajin membaca Al-Qur’an.
Menghindari dari membunuh binatang
Selalu bersikap sabar, menahan amarah, serta mengingatkan kasih sayang, baik antara suami istri, kepada orang tua, teman dan teangga. 

Setelah anak lahir Allah SWT mewajibkan para ibu menyusukan bayinya, guna membuktikan air susu ibu mempunyai pengaruh yang besar bagi anak. 

Sebagai orang tua yang dijadikan sebagai pedoman penentu masa depan anak, maka kewajiban orang tua menyekolahkan anak. Pada usia sekolah ada hal-hal yang perlu dicapai, diantara yaitu: 
Mengemabngkan rasa Iman dalam diri anak
Membiasakan anak melakukan dzikir sebagai permulaan hidup Islam
memberikan bimbingan dalam mengembangkan sikap-sikap kemasyarakatan anak.
memupuk kecerdasan, kecekatan, dan keterampilan melalui latihan-latihan panca inderar.
membantu anak mencapai kematangan fisik dan mental menuju masa depannya. 

Kesimpulan yang dapat diambil dari penjabaran diatas adalah: 

1. Meningkatkan disiplin belajar dan beragama pada anak. 

Disiplin adalah latihan watak dan batin denganmaksud sebagai perbuatannya selalu mentaati tata tertib. Atau ketaan pada peraturan dan tata tertib 

Seorang yang disiplin dalam belajar adala seseorang yang mampu menjalankan proses belajarnya dengan baik., yaitu sesuai dengan waktu, tertib administrasi dan perlengkapan belajar, serta mampu mengaktualitaskan ilmu yang didapat melalui guru dalam kehidupannya sehari-hari. 

2. Memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada anak 

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menciptakan masa depan anak adalah perlunya bimbingan dan penyuluhan melalui kegiatan pendidikan agama. 

Bimbingan dan penyuluhan adalah suatu tuntunan yang mengandung pengertian memberikan bantuan dan pertolongan untuk menentukan arah yang dipilih dan disepakati oleh individu tersebut agar dapat terhindar dan terlepas dari kesulitan yang dihadapi serta masalah yang dihadapi bisa dipecahkan. 


B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDIDIKAN DALAM KELUARGA 

Pendidikan pada hakekatnya dalah menciptakan anak didik menjadi pintar, dewasa serta mampu mengetahui tentang dirinya. 

Dalam kontek pendidikan dilingkungan keluarga, idealnya keluarga tersebut mempunyai dasar pendidikan, tetapi tidak semua keluarga itu dilatarbelakangi dengan pendidikan modern. 

Oleh sebab itu, yang terpenting adalah bagaiman pendidikan dalam keluarga tersebut tetap berjalan, oleh sebab itu kita harus mengetahui beberapa faktor yang mempengaruhi pendidikan dalam keluarga, diantaranya yaitu: 

1. Faktor Sumber Daya Manusia 

Faktor ini adalh faktor yang utama dalam pendidikan keluarga, karena orang tua yang tidak mengerti akan pendidikan, maka akan mengakibatkan pendidikan anak dalam keluarga kurang baik, karena kurang adanya komunikasi yang baik dengan anak tentang ilmu pengetahuan. 

Dalam proses pendidikan yang harmonis, orang tua harus dapat meletakkan dirinya sewaktu-waktu sebagai guru, sebagai kakak, sebagai teman, bahkan sebagai mitra. 

Faktor sumber daya manusia (orang tua) dapat ditentukan oleh: 
kemampuan mengorganisir keluarga
kemampuan memecahkan masalah yang timbul dari anak-anaknya.
Kemampuan untuk memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada keluarganya.
Faktor sarana dan Prasarana 

Sarana dan prasarana yang dimaksud adalah sarana pembelajaran anak seperti buku, lat tulis, buku paket pelajaran, buku pengetahuan umum, guru pembimbing, peralatan elektronik yang digunakan untuk pendidikan atau pembelajaran, dan lain-lain 

Dalam keluarga sederhana, sarana dan prasarana yang betul-betul memadai mungkin tidak ada, hal ini disebabkan karena untuk mendapatkan sarana dan prasarana tersebut tidak ada modal, lain halnya dengan keluarga yang tergolong ekonomi atas. 

Namun demikian yang menjadi persoalan adalah keberhasilan dalam keluarga adalah bagaiman menggunakan sarana dan prasarana sebaik-baiknya. 
Faktor masyarakat. 

Faktor ini menjad faktor yang penting dalam keluarga. Pergaulan masyarakat lebih cepat berpengaruh bagi anak, sebab hubungan keluarga, sekolah dan masyarakat merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan baik bagi pendidikan keluarga maupun bagi pendidikan anak. 

Ketiga faktor tersebut sangat menetukan dalam menciptakan bangsa yang dicita-citakan bersama. Pengalaman anak dalam keluarga dan lingkungan masyarakat akan melekat menjadi watak dan kepribadian yang tidak mudah dilupakan.


BAB IV 
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN 

Dalam sejarah perkembangan lembaga pendidikan, dijelaskan bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan paling tua, dapat dikatakan bahwa lahirnya keluarga sebagai lembaga pendidikan sejak adanya manusia, dimana orang tua yakni ayah dan ibu sebagai pendidik dan anak sebagai terdidik, karena pendidikan dimulai sejak adanya manusia. 

Dari uraian diatas dapat disimpulkan : 
Keluarga merupakan masyarakat pendidikan pertama yang bersifat alamiah karena pertama, dan keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan anak.
Suatu keluarga terbentuk melalui perkawinan yang merupakan institusi sosial yang bersifat universal dan multi fungsional, fungsi pengawasan, sosial, keagamaan, pendidikan, perlindungan dan rekreasi.
Fungsi keluarga adalah memelihara, merawat dan melindungi anak-anak dalam proses spesialisasinya agar mereka mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial.
keluarga merupakan unit yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam kelangsungan hidup bermasyarakat, peranan keluarga diantaranya adalah: sebagai pelindung, unit sosial ekonimi, menumbuhkan dasar-dasar bagi kaidah-kaidah pergaulan dan wadah untuk mempelajari nilai-nilai yang berlaku di masyarakat dan perkembangan kepribadian anak.
Keluarga yang kurang harmonis dapat mempengaruhi pendidikan anak karena beberapa faktor tertentu dan keharmonisan keluarga itu ditentukan oleh: 

a). Masing-masing anggota keluarga meletakkan pada fungsi dan kedudukannya. 

b). Adanya musyawarah dalam memecahkan masalah 

c). Adanya kasihsayang anatar anggota keluarga secara timbal balik. 
Kerjasama komunikasi antara guru dan orangtua perlu diwujudkan dengan sebaik-baiknya.
Tanggung jawb pendidikan terletak ditangan orangtua dan tidak bisa dipikulkan kepada orang lain, maka sebagain tanggung jawab pendidikan dapat dilimpahkan kepada sekolah. 


B. SARAN 
Keluarga atau rumah tangga atau orang tua sebagai wujud kehidupan sosial yang asasi sebagai unit kehidupan bersama manusia yang terkecil, keluarga adalah lembaga kehidupan yang asasi dan alamiah, yang pasti secara ilmiah oleh kehidupan manusia. 

Mengingat betapa pentingnya peranan keluarga dalam pendidikan anak, maka diharapkan setiap orang tua (sebagai pendidik) untuk mendidik anak-anaknya karena motivasi keluarga ini semata-mata demi cinta kasih yang kodrati. Didalam suasana cinta kasih inilah proses pendidikan berlangsung seumur anak itu dalam tanggung jawab keluarga. 

Peranan keluarga dalam pendidikan yang berhubungan dengan anak didalamnya terdapat pula beberapa hal khusus yang perlu diperhatikan diantaranya: sifat menggantungkan diri, kedudukan anak didalam keluarga dan kesulitan-kesulitan pendidikan, karena keluarga adalah lembaga yang tertua yang bersifat informal, yang pertama dan utama dialami oleh anak dan lembaga pendidikan yang bersifat kodrati.

Rabu, 18 Desember 2013

Undang Undang Tentang Desa disahkan Akhir Tahun 2013

Undang Undang Tentang Desa telah disahkan oleh DPR pada hari ini (Rabu,18/12/13) dengan proses yang cukup alot didalam gedung DPR yang banyak diinterupsi baik yang setuju dan yang tidak setuju. Sedangkan di luar gedung ribuan orang berdemo dari Parade Nusantara, Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI), Asosiasi Pemerintah Desa (APdesi) Relawan Pemberdayaan Desa. dan dibantu juga oleh Gerakan Takyat Indonesia Bersatu (GRIB) yang diketuai oleh Hercules menuntuy pengesahan RUUD desa menjadi Undang Undang. Pengesahan RUU Desa ini ditentang oleh dua Partai yaitu PDIP dan Partai Hanura.

Dengan Undang Undang ini perangkat akan mendapat perhatian lebih dan begitu juga pemerintahan desa akan mendapat tambahan dana pembangunan.

Kamis, 07 November 2013

Hadits Palsu Tentang Bulan Rajab

Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku dan Ramadhan adalah bulan ummatku.
HADITS INI “ MAUDHU’ Kata Syaikh ash-Shaghani (wafat th. 650 H): “Hadits ini maudhu’.” [Lihat Maudhu’atush Shaghani (I/61, no. 129)]. Kata Ibnul Jauzi (wafat th. 597 H): “Hadits ini palsu dan yang tertuduh memalsukannya adalah Ibnu Jahdham, mereka menuduh sebagai pendusta. Aku telah mendengar Syaikhku Abdul Wahhab al-Hafizh berkata: “Rawi-rawi hadits tersebut adalah rawi-rawi yang majhul (tidak dikenal), aku sudah periksa semua kitab, tetapi aku tidak dapati biografi hidup mereka.” [Al-Maudhu’at (II/125), oleh Ibnul Jauzy].
Keutamaan bulan Rajab atas bulan-bulan lainnya seperti keutamaan al-Qur-an atas semua perkataan, keutamaan bulan Sya’ban seperti keutamaanku atas para Nabi, dan keutamaan bulan Ramadhan seperti keutamaan Allah atas semua hamba.
HADITS INI MAUDHU’ Kata al Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany: “Hadits ini palsu.” [Lihat al-Mashnu’ fii Ma’rifatil Haditsil Maudhu’ (no. 206, hal. 128), oleh Syaikh Ali al-Qary al-Makky (wafat th. 1014 H)].
Dari jalan Mansyur bin Yazid al-Asadiy telah menceritakan kepada kami Musa bin ‘Imran, ia berkata: “Aku mendengar Anas bin Malik berkata, Sesungguhnya di Surga ada sungai yang dinamakan ‘Rajab’ airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu, barangsiapa yang puasa satu hari pada bulan Rajab maka Allah akan memberikan minum kepadanya dari air sungai itu.
HADITS INI BATHIL. Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Dailamy (I/2/281) dan al-Ashbahany di dalam kitab at-Targhib (I-II/224).
Diriwayatkan dari jalan Amr bin al-Azhar dari Abaan dari Anas secara marfu’, Barangsiapa berpuasa tiga hari pada bulan Rajab, ditu-liskan baginya (ganjaran) puasa satu bulan, barangsiapa berpuasa tujuh hari pada bulan Rajab, maka Allah tutupkan baginya tujuh buah pintu api Neraka, barangsiapa yang berpuasa delapan hari pada bulan Rajab, maka Allah membukakan baginya delapan buah pintu dari pintu-pintu Surga. Dan barang siapa puasa nishfu (setengah bulan) Rajab, maka Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah.
HADITS INI PALSU. Hadits ini termaktub dalam kitab al-Fawaa-idul Majmu’ah fil Ahaadits al-Maudhu’ah (no. 288). Setelah membawakan hadits ini asy-Syaukani berkata: “Suyuthi membawakan hadits ini dalam kitabnya, al-Laaliy al-Mashnu’ah.

Hadits Palsu Tentang Doa

[Dari Kitab Irwa'ul Ghalil 2/178-182. Karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani; Kitab Riyaadlush-Shaalihiin dikarang oleh Imam An-Nawawi]
HADITS PERTAMA : 
Dari Hammaad ibn ‘Isa al-Juhani dari Hanzalah ibn Abi Sufyaan al-Jamhi dari Salim ibn ‘Abdullah dari bapaknya dari ‘Umar ibn al-Khatthab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika mengangkat kedua tangannya untuk berdo’a, tidaklah menurunkannya kecuali beliau mengusapkannya terlebih dahulu ke mukanya. Hadits ini lemah. Diriwayatkan oleh At Tirmidzi (2/244), Ibnu ‘Asakir (7/12/2). At Tirmidzi berkata : ”Hadits inigharib/diriwayatkan oleh 1 orang sanad, kami hanya mendapatkannya dari Hammad ibn ‘Isa Al Juhani. Dan dia menyendiri dalam meriwayatkan hadits ini. Dia hanya mempunyai (meriwayatkan) beberapa hadits saja, tapi orang-orang meriwayatkan darinya.” Bagaimanapun juga hadits ini lemah, berdasarkan pada perkataannya Al Hafidh Ibnu Hajar di dalam At Taqrib, dimana beliau menjelaskan tentang riwayat hidupnya dalam At Tahdzib : ”Ibnu Ma’in berkata:’Dia adalah Syaikh yang baik’, Abu Hatim berkata:‘Lemah didalam (meriwayatkan) hadits‘, Abu Dawud berkata:’Lemah, dia meriwayatkan hadits-hadits munkar‘. Hakim dan Naqash berkata:’Diameriwayatkan hadits-hadits yang tidak kuat dari Ibnu Juraij dan Ja’far Ash Shadiq’, Dia dinyatakan lemah oleh Ad Daraquthni, Ibnu Hibban mengatakan bahwa diameriwayatkan sesuatu yang salah melalui jalur Ibnu Juraij dan Abdul Aziz bin Umar bin Abdul Aziz, tidaklah diperbolehkan untuk menjadikannya sebagai sandaran, Ibnu Makula berkata:’mereka semua mencap hadits-hadits dari dia sebagai hadits lemah”’.

HADITS KEDUA :
Dari Ibnu Lahi’ah dari Hafsh bin Hisyam bin ‘Utbah bin Abi Waqqash dari Sa’ib bin Yazid dari ayahnya, ”Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a dan mengangkat kedua tangannya, maka beliau mengusap wajahnya dengannya” Hadits ini Dha’if. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (1492). Ini adalah hadits dha’if berdasarkan pada Hafsh bin Hisyam karena dia tidak dikenal (majhul) dan lemahnya Ibnu Lahi’ah (Taqribut Tahdzib). Hadits ini tidak bisa dikuatkan oleh dua jalur hadits berdasarkan lemahnya hadits yang pertama.
HADITS KETIGA :
Dari Shalih ibn Hassan dari Muhammad ibn Ka’b dari Ibnu ‘Abbas radiallaahu ‘anhu (marfu’), ”Jika kamu berdo’a kepada Allah,kemudian angkatlah kedua tanganmu (dengan telapak tangan diatas), dan jangan membaliknya,dan jika sudah selesai (berdo’a) usapkan (telapak tangan) kepada muka”. Hadits ini lemah. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1181, 3866), Ibnu Nashr dalam Qiyaamul-Lail (hal. 137),Ath Thabarani dalam Al-Mu’jam al-Kabir (3/98/1) & Hakim (1/536). Lemahnya hadits ini ada pada Shalih bin Hassan, Sebagai munkarul hadits, seperti dikatakan Al Bukhari dan Nasa’i,”Dia tertolak dalam meriwayatkan hadits”; Ibnu Hibban berkata:”Dia selalu menggunakan (mendengarkan) penyanyi wanita dan mendengarkan musik, dan dia selalu meriwayatkan riwayat yang kacau yang didasarkan pada perawi yang terpercaya”; Ibnu Abi Hatim berkata dalam Kitabul ‘Ilal (2/351):”Aku bertanya pada ayahku (yaitu Abu Hatim al-Razi) tentang hadits ini, kemudian beliau berkata:’Munkar’.” Hadits dari Shalih bin Hasan ini diriwayatkan juga oleh jalur lain yaitu dari Isa bin Maimun, yaitu yang meriwayatkan dari Muhammad bin Ka’ab, seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Nashr. Tapi hal ini tidaklah merubah lemahnya hadits ini, sebab Isa bin Maimun adalah lemah. Ibnu Hibban berkata:”Dia meriwayatkan beberapa hadits,dan semuanya tertolak”. An Nasa’i berkata:”Dia tidak bisa dipercaya”.

HADITS KEEMPAT :
Hadits dari Ibnu Abbas ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (1485), dan Bayhaqi (2/212), melalui jalur ‘Abdul Malik ibn Muhammad ibn Aiman dari ‘Abdullah ibn Ya’qub ibn Ishaq dari seseorang yang meriwayatkan kepadanya dari Muhammad ibn Ka’b, dengan matan sebagai berikut :”Mintalah kepada Allah dengan (mengangkat) kedua telapak tanganmu,dan minta pada-Nya dengan membaliknya, dan jika kau selesai, maka usaplah mukamu dengannya”Hadits ini sanadnya dha’if. Abdul Malik dinyatakan lemah oleh Abu Dawud. Dalam hadits ini terdapat Syaikhnya Abdullah bin Ya’qub yang tidak disebutkan namanya, dan tidak dikenal – Bisa saja dia adalah Shalih Bin Hassan atau Isa bin Maimun. Keduanya sudah dijelaskan sebelumnya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Hakim (4/270) melalui jalur Muhammad ibn Mu’awiyah, yang berkata bahwa Mashadif ibn Ziyad al-Madini memberitahukan padanya bahwa dia mendengar hal ini dari Muhammad ibn Ka’b al-Qurazi. Adz Dzahabi menyatakan bahwa Ibnu Mu’awiyah dinyatakan kadzab oleh Daraquthni, Maka hadits ini adalah maudhu’. Abu Dawud berkata tentang hadits ini: ”hadits ini telah diriwayatkan lebih dari satu jalur melalui Muhammad ibn Ka’b; semuanya tertolak.”
Mengangkat kedua tangan ketika melakukan qunut memang terdapat riwayat dari Rasulullah tentangnya, yaitu ketika beliau berdoa terhadap kaum yang membunuh 15 pembaca Al Qur’an (Riwayat Ahmad (3/137) & AthThabarani Al-Mu’jamus-Shaghir (hal. 111) dari Anas dengan sanad shahih. 
Serupa dengan yang hadits yang diriwaytakan dari Umar dan yang lainnya ketika melakukan qunut pada sholat Witir. Namun mengusap muka sesudah do’a qunut maka tidaklah pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, tidak juga dari para shahabatnya, ini adalah bid’ah yang nyata.
Sedangkan mengusap muka setelah berdoa diluar sholat berdasarkan pada dua hadits. Dan tidaklah dapat dikatakan benar kedua hadits tersebut bisa menjadi hasan, seperti yang dikatakan oleh Al Manawi, berdasarkan pada lemahnya sanad yang ditemukan pada hadits tersebut. Inilah yang menjadikan alasan Imam An Nawawi dalam Al Majmu bahwa hal ini tidak dianjurkan, menambahkan perkataan Ibnu ‘Abdus-Salaam yang berkata bahwa ”hanya orang yang sesat yang melakukan hal ini”.
Bukti bahwa mengusap muka setelah berdo’a tidak penah dicontohkan adalah dikuatkan bahwa terdapat hadits-hadits yang tsabit yang menyatakan diangkatnya tangan untuk berdo’a, tapi tidak ada satupun yang menjelaskan mengusap muka setelahnya, dengan hal ini, wallahu a’lam, hal ini tidak diterima dan tidak pernah dicontohkan.

HADITS KELIMA :
Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radliyallahu ’anhu mengatakan bahwa Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : ”Orang yang sempurna akalnya adalah yang mengoreksi dirinya dan bersedia beramal sebagai bekal setelah mati. Dan orang yang rendah adalah yang selalu menurutkan hawa nafsunya. Disamping itu, ia mengharapkan berbagai angan-angan kepada Allah (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan).Hadits ini sanadnya dla’if, karena ada seorang perawi yang bernama Abu Bakar Ibnu Abi maryamdia kacau hafalannya setelah rumahnya kecurian. Selanjutnya Adz-Dzahabi menolak dan mengkritiknya dengan berkata,”Demi Allah, Abu Bakar adalh orang yang suka menduga-duga dalam meriwayatkan hadits (rajulun waahin).
Ada syahid untuk hadits tersebut dari Anas radliyallaahu ’anhu yang diriwaytakan oleh Al-baihaqi dalam Syu’abul-Iman, tetapi beliau berkata,”tetapi dalam sanad hadits ini ada perawi yang bernama Aun bin Ammarah, dia orang yang dla’if dalam periwayatannya”.
Lihat kitab Silsilah Ahaadits Adl-Dla’iifah hadits nomor 5319;Dla’if Al-Jaami’ Ash-Shaghiir no. 4305; Al-Misykah no. 5289;Dla’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 436; Dla’if Sunan Ibnu Majah hadits no. 930; Bahjatun-Naadhiriin hadits no. 66 oleh Syaikh Salim Al-Hilaly; Takhrij Riyaadlush-Shaalihiinhadits no. 66 oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth.
HADITS KEENAM :
Doa adalah inti ibadah” [Hadits Dhaif] [Didhaifkan Al-Albani, Ta'liq 'ala Misykatul Masabiih 2/693 No. 2231]

Senin, 04 November 2013

Guru Ngaji YGNI Ajak Muslim Indonesia Bersatu Untuk Kuasai Media

Media di Indonesia sejak awal adalah alat kepentingan barat untuk menyebarkan paham dan propaganda kapitalusme dan demokrasi yang bobrok,. Para pejuang yang ikhlas berjuang untuk bangsa dan lingkungan akan menjadi musuh media di Indonesia. Media Indonesia selalu membuat opini sesuai keinginan dan kepentingan penguasa dan konglomerat ;\

Kita umat Islam sudah seharusnya khawatir dan peduli akan kondisi seperti ini, karena berita yang akan dibuat adalah untuk kepentingan mereka yang selalu memusuhi Islam dan perjuangan Islam, kebenaran akan diubah menjadi bias bahkan menjadi hitam. Berita yang dibuat oleh pemilik media tersebut tidak membela rakyat kecil tapi untuk kepentingan bisnis dan kekuasaan belaka.

Kita ingat ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sedang dijagokan Amerika Serikat dan sekutunya untuk menggolkan kepentingan barat maka seluruh media menyanjung habis-habisan kebaikan dan prestasi SBY, agar kelihatan seperti manusia keturunan dewa yang tanpa cacat. dan berhasil sampai menduduki jabatan presiden 2 periode.

Sekarang setelah menjabat 2 kali periode yang tidak mungkin menjabat lagi media sekarang menghabisi nama baik yang dibuat sendiri karena sekarang para raja media tersebut sudah punya kepentingan sendiri-sendiri seperti ANTV, TV one , Viva.co.id yang dimiliki Aburizal Bakrie berniat maju jadi calon Presiden Indonesia, Hary Tanoe yang menguasai MNC dan lainnya, ingin jadi wakil presiden, dan lainnya..

Sedangkan Barat sedang mengatur strategi dengan membenmtuk opini jagom presiden pertama Yaitu Jojo Widodo ( JOKOWI) jago cadangan . yang jelas kepentingan barat tidak akan pernah menguntungkan umat Islam dan bangsa Indonesia.
Guru Ngaji YGNI mengajak kepada seluruh Umat Islam :: Mari umat Islam bersatu untuk bahu membahu untuk bisa membentuk satu media atau jaringan media yang terpercaya bagi umat Islam bukan saling menjatuhkan tapi saling mendukung demi kesatuan, persatuan dan kejayaan umat Islam,

oleh : Raras Wuri Miswandaru Sang Guru Ngaji YGNI wakil dari
 Pengurus :

  1. Yayasan Guru Ngaji Indonesia
  2. Forum Komunikasi Guru Ngaji Indonesia

Sabtu, 14 September 2013

ProgramBantuanSiswaMiskin(BSM)BantuAtasiKendalaPendidikan

ProgramBantuanSiswaMiskin(BSM)BantuAtasiKendalaPendidikan

Salah satu persoalan kemiskinan adalah karena tidak adanya akses. Saat ini sudah ada upaya dari pemerintah untuk memberikan bantuan agar rumah tangga miskin dan rentan tidak semakin terpuruk dalam kemiskinan. Program Bantuan Siswa Miskin (BSM) merupakan salah satu upaya untuk memberikan akses di bidang pendidikan.
Wakil Kepala Bidang SDM dan Administrasi Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM Pande Made Kutanegara mengatakan, anggaran atau alokasi biaya pendidikan yang dikeluarkan oleh masing-masing rumah tangga sesungguhnya cukup besar. Jika tidak ada upaya dari pemerintah maka kelompok rumah tangga miskin akan semakin sulit untuk mengenyam pendidikan.
''Tidak hanya akses, persoalan pendidikan juga merupakan persoalan aset. Jika orang tidak mempunyai aset atau uang, Dia tidak bisa bersekolah,'' tuturnya.
Dia menambahkan, terkait dengan akses terhadap pendidikan dan sebagai bagian dari kompensasi kenaikan BBM, pemerintah telah meluncurkan Program Bantuan Siswa Miskin (BSM) melalui mekanisme Kartu Perlindungan Sosial (KPS). Dengan skema itu, Rumah Tangga Miskin yang menerima KPS dan memiliki anak usia sekolah berhak untuk mendapatkan program tersebut.
Sementara itu Dyah Larasati anggota Pokja Pengendali Program Bantuan Sosial, tim nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) mengatakan, BSM itu ditujukan kepada 16,6 juta anak usia sekolah. ''Yang berhak mendapatkan BSM adalah anak usia sekolah dari jenjang SD/SMP/SMA/SMK serta MI/MTs/MA,'' katanya.
Lebih lanjut dikatakan, untuk mendapatkan Bantuan Siswa Miskin Rumah Tangga Penerima penerima KPS cukup membawa KPS ke sekolah/madrasah tempat siswa terdaftar untuk dicalonkan sebagai penerima manfaat program BSM, paling lambat 13 September 2013. Besaran Manfaat BSM yang akan diterima adalah sebesar Rp 225.000/semester untuk SD/MI, Rp 375.000/semester untuk SMP/ MTs, dan Rp 500.000/semester untuk SMA/ SMK/ MA.
Selain melalui mekanisme KPS, Kepala Sekolah/Madrasah bersama komite sekolah/madrasah dapat mengusulkan penerima BSM untuk dimasukkan ke dalam formulir rekapitulasi usulan.
Sumber: Suara Merdeka

Minggu, 07 April 2013

SIMBAH WURI : BEDAKAN DAKWAHKU DENGAN EYANG SUBUR, ADI BING SLAMET !


POSTED BY RARAS WURI MISWANDARU ON 02.01 NO COMMENTS
Penggerak Dakwah Anak-anak dan Pemuda
Simbah Wuri Guru Ngaji YGNI, Papua
Seperti yang suda sampaikan pada tulisan terdahulu : Beda Eyang Subur dan Simbah Wuri bahwa kecenderungan selebritis bahkan sebagian masyarakat Indonesia mencari ketenaran, harta dan ketenaran dengan cara-cara yang salah dan diluar nalar.

Seperti Kasus Adi waktu terpuruk mencari pencerahan datang Eyang Subur yang dipercaya sebagian sebagai sang pencerah . Sebetulnya syah-syah saja Adi Bing Slamet mendatangi eyang, embah, simbah dan lain-lainnya . Yang menjadi masalah adalah yang didatangi itu memberikan bimbingan berdasarkan alquran dan sunnah atau tidak, dan juga orang tersebut beragama Islam yang menjalankan sunnah Muhammad dengan baik atau tidak. Kalau tidak orang tersebut pasti akan memberikan bimbingan yang akan menjauhkan dari Allah SWT atau hanya akan menambah persoalan dikemudian harinya.

Seperti yang sudah sampaikan, saya berdakwah sebagi Gurungaji YGNI di Yayasan YGNI Banyumas dan di Karomah Maunah untuk perbaikan lingkungan dengan mendirikan sekolah dandiniyah gratis  kepada masyarakat khususnya kepada anak-anak dan pemuda / Karangtaruna yang berkualitas serta pelayanan kesehatan tetapi tidak ada masyarakat yang peduli dan mau membantu  bahkan masyarakat memusuhinya , padahal murid / santri sampai ratusan butuh perhatian dan bantuan mereka.

Orang-orang yang sedang ingin mencapai cita-citanya baik itu sekolah, kenaikan jabatan, jodoh, rezeki, kesehatan atau keturunan harus lebih peduli dan mau membela dan membantu orang-orang yang berdakwah demi tegak dan kejayaan Islam bukannya malah memusuhinya tapi malah mencari orang pintar /dukun

Buat Adi Bing Slamet atau Masyarakat lainnya lihat dan bedakan guru spiritual dengan orang yang sedang berdakwah memperjuangkan kejayaang Islam , lihat guru spirtualmu itu arang yang sholeh dan shidiq atau tidak ? agar tidak sesat dan menyesatkan orang lain.